Monday, November 21, 2011

Hari Ini, Sebuah Ruang Tak Berbatas Itu.



Hari ini sebuah diary ditemukan, dengan tulisannya yang acak-acakan, bercerita tentang romansa di kapal Tampomas. Penemunya lantas ingat, kala itu tulisan dibuat setelah penulisnya menonton film Titanic. Sang penemu (sekaligus penulisnya) menertawakan tulisan lama itu, lalu membandingkan dengan karyanya sekarang. Keduanya sama-sama jauh dari sempurna, namun betapa sebuah perjalanan menuju kemajuan atas sesuatu, walaupun ditempuh dalam jangka waktu yang cukup lama, dapat dilalui tak terasa.

Satu tulisan itu lantas membawa saya, penemu sekaligus penulisnya, kepada kenangan atas perjuangan saya dalam dunia tulis menulis. Momen-momen menulis memang seringkali membekas dan menyentil dalam ingatan, menjadi satu parade sentimentil dalam kehidupan. Proses perjalanan untuk terus bermimpi menjadi seorang established writer hingga sekarang terus melaju sebagai sebuah rangkaian cerita. Dulu, secara sukarela saya menulis dengan berdamai tanpa memikirkan masa depan yang dibumbui oleh berbagai tujuan. Seiring berjalannya waktu, motif-motif itu mulai muncul, dari kecemburuan terhadap pengarang buku-buku favorit, pelampiasan terbaik karena mulai merasa tidak berguna akibat salah jurusan, ingin membahagiakan orang tua, sampai akhirnya tujuan tersebut berlabuh pada: pembuktian diri untuk bisa memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan.

Apa tujuanmu menulis? Apa alasannya?



Hari ini, saya mau melupakan alasan-alasan itu. Saya hanya ingin mengenang perasaan yang ditimbulkan ketika sekedar menulis. Sebuah perasaan yang begitu berharga ketika kita bisa ikut tertawa dan menangis, dan sakit hati di dalamnya. Ada masa-masa ketika saya membaca tulisan sendiri lantas merasa itu adalah mahakarya personal, hanya karena apa yang sedang saya rasakan saat itu begitu jujur tertuang dalam tulisan tersebut. Dan ketika suatu hari nanti dibaca kembali, emosi ini masih saja ikut terbawa, bahkan bisa membuat kembali menangis.

Harus diakui, akhir-akhir ini, saya mulai kehilangan momen berharga tersebut. Alasannya cukup sederhana, karena banyaknya proyek tulisan sampingan. Menulis menjadi sesuatu yang monoton karena ide-ide idealis semakin terkubur, dijadikan prioritas yang entah ke berapa. Saya jadi teringat oleh keputusan seseorang yang dengan berani menghentikan proyek-proyek sampingannya dan berkomitmen untuk menciptakan karya idealisnya saja. Konsistensinya seakan bertanya, kapan kamu mau melakukan hal yang sama?

Memikirkan semua itu, timbul rasa galau, pikiran-pikiran mulai berkecamuk, memikirkan karya, karya, dan karya. Kerinduan akan menulis dengan penuh emosi dan kembali ke masa primordial begitu melekat kuat, dimana saya bisa berjalan-jalan dan begitu leluasa menjelajahi sebuah ruang tidak berbatas, hati. Keinginan ini begitu meluap-luap. Berbagai tema mulai meledak-ledak. Bahagia. Sedih. Kehilangan. Ketidak-pastian.

I have to get out from here. I have to.

****************


Photos taken from here

5 comments:

Sundea said...

Punya buku harian, geura, Dil. Terus sesedikit apapun, isi setiap hari dengan apapun yang kamu kepengen tulis.

Buku harian menuhin hasrat nulis personal. Bikin sehat seperti rajin olahraga setiap hari =D

fahmisme said...

menulis untuk kebebasan bukan sebaliknya, saya pikir tujuannya harus itu...

brainmelosa said...

@Dea: kaya punya kamu itu? yang selalu kamu bawa-bawa dan kamu coret-coret ya De?

@fahmisme: i thought so :)

Sundea said...

Iya, betul sekali. Isinya bener2 suka2 sendiri =D

coratcoret said...
This comment has been removed by the author.