Sunday, November 2, 2008

secarik kertas (2)

memanggilnya, tapi panggilan ini tidak digubris. ia membuat saya bungkam dengan sikapnya yang mengabaikan. kesal. saya bungkam. diam. tidak berkedip. tidak berkutik. saya pergi meninggalkannya dengan berdalih bahwa dia akan menunggu saya, ternyata dia pergi. marah. kecewa.

saya mencari cara untuk menemuinya, saya harus bertemu dengannya. maka saya berlari menuju sebuah persinggahan orang-orang yang ingin melakukan akad nikah. masjid itu. masjid sekaligus gedung serbaguna yang biasa digunakan untuk perhelatan resepsi.
dia seharusnya disana.
tapi tidak ada.
" mang, tim fotografer sudah datang? "
" belum neng."
baiklah. saya akan tunggu dia sampai jam dua pagi.
" mang, sudah datang? "
" belum neng "
cukup lama saya menunggu, berharap sebuah honda jazz memasuki pelataran parkir, bukan mobil bak. bukan mobil box, bukan gerobak, apalagi mobil polisi. hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi saja.

Ketika saya pergi, saya memutuskan untuk tidak membiarkannya larut dalam segala kekecewaannya. Secarik kertas berisikan penyesalan namun bukan permintaan maaf akhirnya lahir, dengan harapan secarik kertas ini setidaknya akan menjadi peredam emosi, bukan pemicu.
“ mas, tolong titip surat ini, sampaikan pada salah satu anggota tim fotografer”
“ iya neng”
“ makasih ya mang.punten, tolong sampein, penting.”
“ iya.”

Dan saya pulang….dengan harapan itu. Bahwa saya menyesal, tapi tidak mau meminta maaf. Kukira dia sudah kenyang dengan permintaan maaf saya.

secarik kertas (1)

do understand me,
you're the only one who can understand me when the world couldn't.
i need you desperately to stay with me,
bear with me, though it's not easy.
please do, will you?

Tuesday, October 21, 2008

Satu Kata Ternyata.

Wanita itu berusaha menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Anak itu tersenyum, lalu wanita itu menyuapkan lagi makanannya. Anak itu tersenyum lagi. Seperti ingin mengucapkan terima kasih tetapi kata terima kasih itu tidak pernah terlontar,
ia tahu ada yg salah.
Kemudian wanita itu mengusap, mencium, memeluk dan membelai dengan penuh kehangatan. Anak itu terpejam, merasa senang, bahagia, tapi terdiam.
ia tahu ada yang salah.
Beberapa saat kemudian wanita itu mulai menggeliat, menggerutu, menceraiberaikan segala hal yang ada di depannya, membentak dan memarahi anak itu hingga anak itu tersedak. Anak itu mengelus dadanya. tersenyum, ia mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah namun itulah yang membuatnya bahagia. ketidak-mampuannya untuk memprediksi apakah detik berikutnya ia akan disuapi makanan, dipeluk, dibelai, atau...disakiti.

Hell with it, he's still gonna love it. Ketidak-teraturannya. Ketidakmampuannya untuk berprediksi. Anak itu tetap bahagia.
Wanita itu.

Alter-ego.

Tuesday, October 7, 2008

let.......go

jika saja mendefinisikan sebuah hubungan semudah membalikkan telapak tangan.
jika saja membuatmu mengerti semudah kamu membuat saya mengerti bahwa sebuah hubungan memang sulit dimengerti.

saya banyak memperhatikan pembicaraan orang ketika hubungan mereka sudah berakhir namun mereka masih ingin memperbaikinya. the hardest part of letting go. breathing deeply.... let it all out. put all the "bad" out in the air without a care. hate. dissapoinment. anger. pick your poison. gravitas dan kapasitasnya terlalu berat untuk membuat kamu bergerak atau bahkan membuat kamu berubah. hingga kita sampailah pada satu titik dimana emosi-emosi itu mengkonsumsi kita, bahkan menjadi tolak ukur pemerintahan perspektif kita.

sebenarnya, yang menjadi lebih sulit adalah ketika kita harus memilih untuk mengambil tahap let go itu tadi. mengambil kutipan dari Neil Geilman, it takes hostages. well, well.

ada satu pemikiran yang terus menerus berkecamuk dalam kepala ini hingga saya memilih keputusan yang diambil orang-orang lainnya bahwa keputusan untuk mencoba menyudahi hubungan yang memang sudah disudahi:
time? effort? someone else? no.
take the riskier chance? hmm.
maybe the thing is...you were never really appreciating it until now.
until i decide........better for us never.

Sunday, October 5, 2008

the progress

ketika "ketika daun bercerita" sudah diterbitkan, hanya sebentarr saja bagi saya untuk sedikit merasa lega. ada sedikit kekhawatiran mengenai karya saya yang kedua: Absurd Paradiso dan Terra Incognita. kekhawatiran ini, kekhawatiran itu, apalah. Pencapaian saya untuk kedua novel berikutnya memang berbeda. I want it not to be perfect, but more exactly like what i want. Terbebaskan pakem. sedikit beban yang berbeda, karena harapan yang ada memang berbeda, pokoknya berbeda, hahaha. Sooooo....wish me luck, will you?? ;)