Thursday, October 1, 2009

seditieux

Seperti yang diceritakan oleh puthut ea dalam salah satu cerpennya, yang menceritakan tokoh seorang pendekar subversif,walaupun dia tidak pernah berusaha untuk menggulingkan suatu kerajaan, namun hati pemberontaknya tidak pernah tertahankan. a man with a sword, people say. dia tidak terhasut dan dihasut atau bahkan menghasut. dia hanya menjalani kehidupan yang sarat akan falsafah hidup yang tersembunyi dalam satu rutinitas membosankan. kalaulah ia terdidik untuk menjilat, mungkin ia dapat menjalani kehidupannya lebih mudah namun tak terarah. namun ia menolak dengan keras. he devoid his individual, one-of-a-kind energy, the very energy that the corporation needs to reinvent itself. the new life forced him not to swearing and cursing on anything, but more like adventuring.

tidak ada yang tahu kemanakah perjalanan kehidupan metropolitan akan membawanya, but he'll always ready for it. maybe his mind said, "bring it on, man."

Sunday, September 20, 2009

in fantasy we're married

dia memperkenalkan saya pada temannya bahwa saya adalah adiknya. Tidak salah memang, walaupun kami tidak diikat oleh suatu hubungan darah. Dan berbeda dengan hubungan adik-kakak jadi-jadian yang seringkali berakhir dengan hubungan percintaan, our brother-sistership is beautiful. From nothing to something, from no one to someone. I love him as my trully brother, he loves me as trully sister. So one one day, in our imaginary world, we are married.

"And now I pronounce you as brother and sister,and brother, you may hug the sister."
There, we hugged.so in fantasy we're married. Not as husband and wife, but more like brother and sister.

Saturday, July 18, 2009

Polyamory

He poured a coffee in a cup. Smile, few words and less expressions. He was typing, She was reading. Tidak pernah terbesit dalam benak mereka untuk bertukar kata, bertukar pikiran. Namun pada hari itu mata mereka saling memandang, menyiratkan sebuah makna: kita harus berbicara. She doesn’t know him, he doesn’t know her. But deep inside, they want to know each other. Wanita itu berdiri. Sebuah skinny headband ia ikat, tiba-tiba ia berdiri, membusungkan dada, seakan ia ingin memamerkan pakaian kebesarannya: floral shirt. I am the product of flower generation, come and love me. Seketika pria itu berkesimpulan: we do have something in common my dear, so u are such a polyamorous person, I knew it. Mungkin kamu adalah salah seorang dari mereka yang tumbuh dalam satu era yang mengusung satu konsep kehidupan: free loving. Polyamory. Pria itu berpikir: Murahan. Tapi dia begitu menarik. saya tetap suka. Sementara si wanita yakin: saya pintar, tidak peduli saya murahan. Look at yourself, dude. Kamu pasti menyukai saya.
Dunia boleh menyangkal, tetapi diam-diam ia mengakui, ia sudah cukup tua untuk mengerti bahwa manusia sudah muak untuk menyangkal, mereka lebih menyukai hidup dengan kebebasan. Maka…..wanita itu berdiri, menghampiri pria asing itu, lalu ketika wanita itu hendak mengucapkan kata, sang pria mengatupkan mulut sang wanita, membungkamnya, memeluknya dan membisikkan sebuah kalimat: “I’m addicted to you, stranger….”
Sometimes, polyamorous people think that addiction is better than love.

Friday, July 10, 2009

Insanely say : Yes, I would!!!!!!

Saya memegang tangannya,tidak menyangka: Bjork dear, Bjork. Dia akan menyanyi di hadapan saya, kamu, dia, dan dia, dan dia, dan semua orang pendukungnya di Indonesia. Lupakan semua bentuk substansi, ini akan menjadi malam yang membuat kita berteriak, dan larut dalam lautan ketidakwajaran euforia. Ia menggenggam saya lebih erat, seakan dia memendam kebahagiaan yang melebihi kesenangan yang saya dapatkan. I know, dear, this is a very great idea.

And there she is. Singing, moaning, beautifully in a different way. Bahu saya diremas ketika terdengar nada-nada itu. Kami berpandangan, “ And I’ll go through all this before you wake me up,..” Ia menyanyi seperti bidadari dari wonderland. Hyperballad, Bjork, promotor, terima kasih, untuk telah ada.

Hyperballad selesai, dia tidak berhenti menyanyi. Tapi…tiba-tiba nadanya tampak asing. Saya lantas tidak menjadi terasing, karena semuanya memang terdiam, sama seperti saya. Menebak-nebak lagu apa yang dia nyanyikan dalam bentuk acapella. Dan ,mendengarlah saya. mengertilah saya.

“Diiiiilllaaaaaa…..would yooouuuuu marrrrryyy meeeeeeeee………”

Is she calling my name? Yes.

Is she ask me to marry her? Rrr……NO.

Surprisingly, My boyfriend does, through her. He’s smiling.

Wajah saya seketika panas. Jantung saya berdetak hebat. Semua penonton berteriak “ I would!!! I would!!! I would!!!!! “ Saya melirik dia. Dia tertawa terbahak-bahak dan menyenggol lengan saya, menyenggol dan menyenggol. “ I would!! Say it!!! “ teriaknya. “ say it!! Say it!!” penonton berteriak serempak.

Lautan manusia ingin saya ubah menjadi lautan air mata, jika saya bisa. Lautan air mata kebahagiaan, dan rasa yang tidak dapat saya definisikan. Saya kembali disenggol olehnya, lalu dia mengangkat bahunya. Saya menciumnya. “yes, I would,” bisik saya. Suara sorakan bergemuruh, tanda ikut bahagia. Saya dan dia dilempar-lempar keatas, Bjork kembali menyanyi seperti kesetanan. This is high, dear. The highest high, you take me to this high. Terima kasih sayang.

Penonton, ingin sekali saya bercerita, andai dia tahu baru saja sehari sebelumnya saya bertekad bahwa saya tidak akan pernah menikahi lelaki seperti dia.

Friday, June 5, 2009

Leaving.....

saya menulis ini dengan perasaan yang terlalu campur aduk, lebih rumit dari beragam-macam warna adukan cat yang disatukan dalam satu ember plastik hanya akibat dari seseorang yang terlalu kurang kerjaan. fheww. perasaan saya terlalu rapuh untuk dapat digambarkan. ibarat anak yang harus rela meninggalkan ibunya yang gila, rasa kehilangan ini sungguh terlalu disayangkan. i know letting go. but what i just know is letting go with anger. it's just too dissapointing when let's say, you know that you right but some of people is just too busy to know the truth. saya mulai rela untuk meninggalkan mereka, bukan karena saya tidak sayang kepada mereka, namun karena saya tahu, dengan saya tinggal disana, bukanlah sebuah proses pembelajaran lagi yang saya dapat, melainkan sebuah proses dimana saya harus menyukai sesuatu yang notabenenya memang dibenci. mulut saya terkunci, menolak untuk mengumumkan kebenaran, ketika saya pikir saya sudah tenggelam dalam lautan kebencian. keluarga saya berteriak: cry, baby, cry, let it go, let it all out, let the time heals, answer all of those unacceptable questions, leave people who have hurt you so deeply.

so i'm leaving now.
abandoning priority.
abandoning you, him, her,them.
i have something else to do: to catch my brighter future.