Tuesday, June 15, 2010

Rasuk

. Sebuah titik mendobrak dimensi keterkejutan. Setahuku dia sedang berada di Irlandia. Dan sekarang, dia hadir, menjadi pengganti kehadirannya yang biasanya hanya berupa kata, ekspresi dan makna emoticon belaka. Percuma dia mengenakan pakaian hitam-hitam, karena senyumnya seketika memusnahkan rasa duka.

Hari itu adalah hari dimana ayahku meninggal dunia, dan dia sengaja datang untuk berbela-sungkawa. Tersenyum. Sambil merangkul hangat. Berbagi kata-kata bijaksana yang ia dapat dari nasehat neneknya tercinta. "Verdure", bisik sahabatku mengomentari kedatangannya. Terlalu magis memang, verdure. Seakan-akan dia tidak pernah mengalami kegelisahan bahkan masa suram. Tapi nyatanya karena dia, suatu hari aku pernah berteriak, reality, i dare you to come and bite me!

Itu bukanlah yang pertama kali.

Bukan yang kedua kali. Bukan yang ketiga kali. Kalau sudah lebih dari tujuh kali, aku mulai mencurigainya sebagai sosok yang hadir dari dunia hiperrealitas. Ini kali keempat dia datang, dan membuka luka lama sebagai kekasih lama. Lima tahun berlalu, dan selama lima tahun itulah dia sesekali hadir dalam suatu senja, bercerita. Breaking the ice when we've got nothing to say. Selalu aku yang tertegun, bagaimana bisa aku begitu saja menerima muntahan humor estetisnya, ocehan filusufnya, sementara dia cukup puas dengan senyumku yang jumawa. Breaking the ice, and the next feeling we're just like a newlywed, during their honeymoon on ice, even that's just another way to hell through a bridge of heaven, karena seperti biasa, dia akan mengakhirinya dengan, "Jangan terlalu banyak berharap, karena itu akan membuatku menjadi seorang pencetak mimpi yang tidak ada bedanya dengan tukang obat".

Maka aku hanya bisa menelan kata-katanya bulat-bulat. Another story about that irish girl, this irish boy, how's the life without people's intervention, including mine, especially mine.

Sampai hari ini.

Sampai ketika sebuah kenyataan lain berbicara. Ternyata akulah sang pencetak mimpi, bukan dia. Ketika aku berkata bahwa kematian ayah memutuskanku untuk pergi berkelana, dia memberontak dengan keras. "Jangan", pintanya dengan sangat. Dia bilang, ibarat pohon tua, kehadiranku sudah terlalu mengakar di kota tua ini. "Jangan pergi. You cannot pull up the roots. your roots, with our story, our city, our roots". Mungkin dia khawatir, dia tidak akan pernah bisa mendatangiku lagi untuk bercerita. Aku terdiam. Maaf. Hanya kata itu yang aku ingin dengar, dan aku tidak akan pernah pergi. Tapi dia hanya memintaku untuk tinggal, tanpa menyebutkan kata itu, walaupun aku tidak pernah meminta. Biarkan aku pergi, ucapku padanya. Mungkin aku akan pergi ke India, Mesir, Amerika, atau Berlin. Tapi tidak Irlandia. Aku akan melakukan sebuah revolusi. I'm gonna be the man with a new qualified of modern noble savage.

Dan terjadilah peristiwa yang terjadi untuk pertama kalinya.

Tangisnya pun pecah menderau-derau. Baru kali ini aku melihatnya demikian. Ada sebuah rasa bangga yang menyeruak diantara kesedihan. Ternyata penderitaan ini menjadi sebuah kesalahan. Tidak perlu kata untuk menjelaskan, karena derau dan kesalahan telah membuatku menjadi tahu, tangisnya menandakan bahwa pendongeng itu adalah kekasihku sepanjang masa. I will always have her heart. Ketika lima tahun menjadi waktu yang dirasa terlalu terburu-buru, aku akhirnya berkata, "Biarkanlah kebebasan ini mengalir, because one day, i'll fight the future for you.", dan dalam hati aku menambahkan, maybe.

Aku pergi, meninggalkannya. Ketika wajah kekasihku meninggalkan sebuah tanya tanpa kata, akhirnya aku menyerah dan berpesan padanya,
"Temui aku di Malino, 22 maret 2012."

Disitulah akhir semua perkara.




15 juni 2010,
(inspired by the album "Rasuk"
by The Trees and The Wild)

4 comments:

Anonymous said...

Makes me smile. Makes me sad. This is great.

dongengdenis said...

nice, i like the 'maybe' part. :)

perempuansore said...

Ketidakberaturannya, membuat saya memburu membacanya lagi dan lagi.

bella sirait said...

seperti loncat-loncat...bikin deg-deg an ;)